msg sebabkan darah tinggi?

MSG & Garam : Dampaknya Bagi Kesehatan

Globalisasi merupakan suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia tanpa mengenal adanya batas dari suatu wilayah. Pesatnya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi dunia menjadi faktor penentu utama yang menghadirkan globalisasi. Peleburan budaya selanjutnya menjadi hal yang wajib muncul sebagai dampak dari adanya globalisasi, dimana berbagai macam gagasan dimunculkan dan ditawarkan dengan bebas untuk kemudian diikuti dan disepakati secara bersama-sama sebagai sebuah pedoman bangsa-bangsa di seluruh dunia.

Terjadinya peleburan budaya sudah pasti akan mempengaruhi gaya hidup orang-orang yang terpapar arus globalisasi, dimana kebutuhan hidup setiap orang akan berkembang dan menjadi kompleks seiring dengan bertambahnya nilai dan budaya yang mereka yakini.

Dampak Globalisasi Terhadap Kebutuhan Pangan

Salah satu kebutuhan yang diyakini terus berkembang dalam era globalisasi ini adalah kebutuhan akan pangan. Kemajuan teknologi informasi tidak lain membawa dampak terhadap perubahan pola konsumsi pangan masyarakat yang saat ini cenderung lebih banyak mengkonsumsi jenis makanan cepat saji, makanan kemasan, dan makanan awetan yang terkesan praktis.

Selain mengedepankan aspek praktisnya, sebagian besar konsumen pangan akan mencari produk makanan yang memiliki cita rasa yang lezat, dimana kemudian produsen akan berlomba-lomba menghasilkan produk pangan yang juga lezat, yaitu dengan cara meningkatkan mutu gizi pangan dari produk yang dihasilkan.

Apa Itu Bahan Tambahan Makanan (BTM)?

Untuk meningkatkan mutu gizi pangan dari suatu produk, produsen biasanya menambahkan bahan tambahan pangan atau makanan (BTM) ke dalam setiap produk. Menurut Anwar (2004) bahan tambahan makanan (BTM) digunakan untuk mendapatkan pengaruh tertentu misalnya untuk memperbaiki tekstur, rasa, penampilan, dan memperpanjang daya simpan. Berbeda dengan racun, Bahan Tambahan Makanan (BTM) adalah bahan yang ditambahkan ke dalam makanan untuk mempengaruhi sifat ataupun bentuk makanan (Yuliarti, 2007).

Kegunaan BTM

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.325/MEN.KES/VI/1979 mengelompokkan bahan tambahan makanan (BTM) kedalam berbagai macam fungsi, salah satunya adalah sebagai penyedap rasa dan aroma (Puspitasari, 2000).

Penyedap rasa atau bumbu masak saat ini sudah biasa digunakan masyarakat. Sebagian besar masyarakat merasa masakan akan hambar tanpa diberi penyedap. Menurut Saparinto dan Hidayati (2009) penyedap rasa ditambahkan untuk menambah kelezatan pada masakan dengan memberikan rasa umami (gurih), selain itu juga berfungsi untuk menghilangkan rasa yang tidak diinginkan dari suatu bahan makanan serta berperan dalam menguatkan rasa pada setiap masakan (Pramadi, 2008).

Salah satu bahan tambahan makanan (BTM) yang dianggap dapat mempengaruhi kelezatan rasa suatu produk makanan adalah Monosodium glutamat (MSG).

Monosodium Glutamat (MSG)

Monosodium glutamat (MSG) adalah bentuk garam dari asam glutamat yang berbentuk kristal putih yang berukuran sangat kecil.

Asam glutamat sendiri merupakan salah satu jenis di antara 20 asam amino yang menyusun protein dalam tubuh. Asam amino sendiri ada yang bersifat esensial dan ada pula yang bersifat non-esensial.

Asam amino esensial adalah asam amino yang tidak dapat diproduksi tubuh sehingga untuk mendapatkannya memerlukan asupan dari luar sepenuhnya seperti lewat makanan. Asam glutamat termasuk ke dalam asam amino non-esensial sebab dapat diproduksi sendiri oleh tubuh.

Penggunaan MSG di China & Indonesia

Monosodium glutamat (MSG) yang juga biasa disebut vetsin atau micin telah lama digunakan sebagai penyedap makanan. Negara-negara asia merupakan konsumen sekaligus produsen MSG terbesar di dunia. Pada tahun 2014 China menyumbang masing-masing sekitar  65% dan 55% untuk  produksi dan konsumsi MSG dunia, dan Indonesia sendiri menempati urutan kedua sebagai negara produsen dan konsumen MSG terbesar dunia (IHS Chemical, 2017).

makanan instant menggunakan banyak msg

Konsumsi MSG di Indonesia

Angka produksi MSG Indonesia cukup besar, namun angka kebutuhan MSG dalam negeri pun besar. Rata-rata angka konsumsi MSG di Indonesia  diperkirakan  sebesar  99.705,9  ton, sehingga  dibutuhkan  impor  dari China untuk  mencukupi kebutuhan  tersebut.

Rata-rata konsumsi MSG orang Indonesia adalah sebesar 0,12 kg/kapita/tahun dan untuk anak-anak sekolah sekitar 0,06 kg/kapita/tahun (Winarno 2004). Menurut data Indochemical diacu dalam Taufiqurohman et al. (2001) selama tahun 1999 Indonesia mengonsumsi 119 ribu ton MSG yang jika dihitung dengan jumlah penduduk sama dengan 550 gr/kapita/tahun, atau kurang lebih 15 gram sehari. Kuantitas itu adalah lebih tiga kali lipat dari batas keamanan yang dinyatakan oleh FASEB (Federation of American Societies for Experimental Biology) dan FDA di Amerika Serikat dengan batas konsumsi harian sebesar 120 mg/kg berat badan.

Di negara-negara barat, garam dapur merupakan sumber utama natrium. Sedangkan di Indonesia, disamping garam dapur dan ikan asin, sumber lain natrium yang potensial adalah MSG. Menggunakan MSG atau mecin sebagai bahan tambahan makanan sudah menjadi kebiasaan bagi masyarakat Indonesia.

Sebagian masyarakat beranggapan bahwa makanan terasa hambar jika tidak ditambahkan mecin. Selain untuk menambah cita rasa makanan, mecin juga digunakan untuk menghilangkan rasa-rasa yang tidak diinginkan dari bahan-bahan makanan tersebut. Mecin seakan-akan sudah menjadi bumbu utama setiap masakan Indonesia.

Bahaya Menggunakan MSG dan Garam Secara Bersamaan

Selain itu, mecin juga banyak digunakan pada makanan-makanan cepat saji karena penggunaannya yang praktis. Penggunaan mecin dan garam yang bersamaan inilah yang menyebabkan kadar natrium dalam tubuh yang tinggi serta meningkatnya kejadian darah tinggi di Indonesia.

Konsumsi garam yang berlebihan memiliki dampak negatif bagi kesehatan. Menurut American Heart Association (2014), konsumsi garam yang berlebihan dapat meningkatkan risiko hipertensi, stroke, gagal jantung, osteoporosis, kanker perut, penyakit ginjal, batu ginjal, pembesaran otot jantung, dan sakit kepala.

Penyakit Hipertensi di Indonesia

Hipertensi merupakan salah satu dampak yang timbul akibat konsumsi garam yang berlebihan. Hipertensi termasuk dalam sepuluh penyakit paling mematikan di Indonesia (CNNIndonesia). Hipertensi menempati urutan ke-5 pada daftar ini.

Mecin merpakan salah satu bahan tambahan makanan yang mengandung natrium. Natrium merupakan unsur yang terdapat dalam garam. Konsumsi mecin dapat meningkatkan asupan natrium. Mecin hanya mengandung kurang lebih 1/3 dari jumlah natrium dalam garam. Mecin mengandung 12% natrium jika dibandingkan dengan garam dapur yang mengandung 40% natrium. Konsumsi mecin bersamaan dengan garam dapur yang berlebihan dapat meningkatkan risiko kejadian hipertensi.

Hipertensi dan MSG

Mecin dicurigai sebagai penyebab utama dari hipertensi. Penelitian dilakukan untuk mengetahui efek dari makanan yang ditambahkan mecin. Berdasarkan sebuah penelitian ditemukan bahwa tidak ada hubungan antara mecin dan hipertensi, namun  temuan ini bertentangan dengan penelitian sebelumnya.

Pada akhirnya, ditemukan hubungan yang kuat antara konsumsi mecin dan hipertensi, namun tidak dapat dijelaskan mengenai efek mecin terhadap tekanan darah. Oleh karena itu, kita dapat berpegang pada penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Bruce Neal (2006) yang mengatakan bahwa sodium (MSG) mempunyai hubungan yang bermakna terhadap kejadian hipertensi.

Penggunaan mecin dan garam dapur hendaknya tidak dilakukan bersamaan. Hal ini ditujukan untuk menghindari konsumsi garam yang berlebihan. Untuk menyiasati, saat menambah cita rasa pada makanan dapat diganti dengan pemberian sedikit gula. Selain itu, perlu diperhatikan konsumsi makanan kemasan yang biasanya mengandung mecin dan garam.

Konsumsi makanan kemasan ini terutama makanan ringan harus dibatasi. Diharapkan dengan pembatasan penggunaan dan konsumsi garam bersamaan dengan mecin dapat menghindari dari risiko hipertensi.

Artikel oleh : Betania Ilhami, Muhammad Zikri, dan Dini Fauziah, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.
Dibimbing oleh: Pujiyanto, SKM, M.Kes.

Back to Articles