alasan mengapa minum antibiotik harus sampai habis

Tidak Tuntas Minum Antibiotik, Waspada Ancaman Resisten!

Menurut World Health Organization (2017), antibiotik adalah obat yang hanya digunakan untuk mencegah dan mengobati infeksi bakteri. Jika respon bakteri berubah menjadi lebih kebal ketika mendapat antibiotik, maka kondisi tersebut disebut sebagai resistensi antibiotik.

Perlu diperhatikan bahwa bakteri hanya resisten terhadap antibiotik, bukan manusia. Sedangkan definisi dari Resistensi Antimikroba, atau Antimirobacterial Resistance (AMR) adalah istilah yang lebih luas, mencakup ketahanan terhadap obat-obatan untuk mengobati infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme, seperti bakteri (TBC), parasit (misalnya malaria), virus (misalnya HIV) dan jamur (misalnya Candida). Jadi, resitensi antibiotik menjadi bagian yang tercakup dalam resistensi antimikroba.

Bahaya Antimicrobacterial Resistance (AMR)

Cakupan AMR telah meluas ke berbagai belahan dunia dan sudah menjadi ancaman global, sehingga perlu mendapat perhatian khusus dari setiap negara dan masyarakat.

Menurut WHO (2017), AMR dapat mengancam kemampuan individu ketika mendapat pengobatan. Dalam hal ini AMR mampu mengakibatkan kesakitan, kecacatan, dan bahkan kematian. Selain itu, antimikroba yang tidak efektif akan meningkatkan risiko dilakukannya prosedur medis lebih lanjut seperti transplantasi organ, kemoterapi kanker, manajemen diabetes atau operasi besar lainnya.

AMR juga dapat meningkatkan biaya perawatan kesehatan akibat perlunya perawatan intensif dan masa inap yang lebih lama di rumah sakit.

Penggunaan Antibiotik di Indonesia

Pada tahun 2014, WHO telah menyatakan adanya 480.000 kasus tuberculosis yang berpotensi resisten terhadap pengobatan. Penyakit lain yang juga berpotensi terus mengalami peningkatan AMR diantaranya influenza, malaria, dan bahkan HIV. Di Indonesia sendiri, antibiotik telah dijual bebas. Antibiotik bisa dengan mudah ditemukan di warung atau apotek. Dengan kemudahan dalam membeli antibiotik, masyarakat seringkali mengandalkan antibiotik bahkan ketika hanya terkena batuk pilek atau diare, padahal keduanya bukan disebabkan oleh bakteri, melainkan virus.

Dampak Antimicrobacterial Resistance di Indonesia

AMR menjadi masalah yang serius. Jika dibiarkan, AMR akan memberikan dampak buruk pada kesehatan, ekonomi, ketahanan pangan dan pembangunan global.

Beban Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) pun makin terbebani dengan memburuknya AMR. Pada 2013, angka kematian akibat AMR mencapai 700 ribu orang per tahun. Dan jika tidak dilakukan pembenahan, pada tahun 2050 kasus ini dapat meningkat menjadi 10 juta kasus pertahun.

2 Faktor Utama Penyebab AMR

Penyebab AMR multikausal, maksudnya disebabkan oleh banyak faktor. Mulai dari faktor perilaku pola penggunaan obat-obatan, tingginya mobilitas, serta peran dan komitmen pemerintah dalam menyelesaikan masalah.

  • Pola Penggunaan Obat yang Salah

Pola penggunaan obat yang salah contohnya seperti penggunaan antibiotik untuk penyakit flu. Padahal flu ini merupakan infeksi yang justru disebabkan oleh virus, sehingga tidak dapat disembuhkan oleh antibiotik.

Contoh lain kesalahan pola penggunaan obat diantaranya :
  1. Konsumsi obat berkualitas rendah
  2. Pembelian resep yang salah dari dokter atau pembelian obat non resep
  3. Praktik minum obat yang tidak sesuai aturan
  4. Menyimpan cadangan antimikroba di rumah.
  • Tingginya Mobilitas Manusia Jaman Sekarang

Mobilitas manusia yang cepat ke berbagai belahan dunia seiring dengan kemajuan transportasi menyebabkan bakteri, parasit, jamur, dan virus yang resisten menyebar dengan sangat cepat. (NCBI, 2014)

Fenomena AMR ini ternyata tidak hanya terjadi pada manusia, namun juga terjadi pada hewan dan tumbuhan. Hal ini dilakukan akibat dampak dari penggunaan antimikroba dengan tujuan memicu pertumbuhan yang lebih cepat atau mencegah penyakit agar jumlah hasil pertanian atau perternakan memenuhi kebutuhan pasar dengan cepat dan berkualitas. (NCBI,2014)

Peran Pemerintah Indonesia Terhadap Masalah AMR

Terhadap isu AMR ini, pemerintah Indonesia telah memberi tanggapan. Keseriusan pemerintah dalam mengatasi isu AMR, terlihat dari kebijakan dan program kesehatan yang dibuat.

Kementerian Kesehatan RI sudah mengatur tentang AMR dalam Permenkes RI Nomor 8 Tahun 2015 tentang Program Pengendalian Resistensi Antimikroba di Rumah Sakit. Di dalam Permenkes tersebut disebutkan bahwa setiap rumah sakit harus melaksanakan Program Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA) secara optimal melalui pembentukan tim pelaksana PPRA, penyusunan kebijakan dan panduan penggunaan antibiotik, melaksanakan penggunaan antibiotik secara bijak, dan melaksanakan prinsip pencegahan pengendalian infeksi.

Program Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA)

Sebagai pendukung terlaksananya PPRA, Kemenkes juga membentuk Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA). Komite ini memiliki fungsi utama untuk mengendalikan penggunaan antimikroba secara luas baik di fasilitas pelayanan kesehatan dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengendalian resistensi antimikroba. Tidak hanya itu, komite ini juga bertugas menyampaikan rekomendasi kepada Menkes untuk membuat kebijakan terkait resistensi antimikroba.

Selain upaya-upaya di atas, masih banyak lagi program pengendalian AMR yang dibuat oleh pemerintah, mulai dari Rencana Aksi Nasional untuk AMR yang melibatkan kementerian multisektoral, serta keikutsertaan Indonesia di forum-forum internasional untuk pengendalian AMR.

Upaya-upaya tersebut tentu diharapkan mampu menurunkan angka kematian dan kesakitan akibat AMR, serta mampu mengeliminasi masalah AMR dari isu kesehatan masyarakat di Indonesia.

Peran Masyarakat dalam Menghadapi AMR

Program-program pemerintah yang ada perlu didukung dengan kesadaran dari masyarakat untuk melakukan upaya-upaya preventif AMR. Kesalahan-kesalahan lumrah yang dilakukan masyarakat seperti menyimpan cadangan antibiotik di rumah, membeli antibiotik di warung tanpa resep dokter, hingga memaksa dokter untuk menuliskan resep antibiotik sebenarnya dapat dikurangi dengan mengetahui dampaknya.

Oleh sebab itu, kedepannya diharapkan masyarakat dapat melakukan upaya preventif sederhana yang paling utama, yaitu mengkonsumsi antibiotik hanya berdasarkan resep dokter dan meminumnya sampai habis.

Artikel oleh : Nurul Azizah, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.

Back to Articles