manfaat gandum bagi kesehatan

Sisi Gelap Sang Gandum

Gandum merupakan tanaman pangan utama yang dikonsumsi manusia setelah padi. Hal ini karena gandum kaya akan karbohidrat, vitamin, dan mineral yang rendah lemak. Gandum banyak dijadikan bahan baku membuat panganan utama seperti pasta, sereal, roti, biskuit, dan kue di berbagai negara. Tren mengonsumsi gandum yang semakin popular membuat beberapa perusahaan produk makanan memproduksi gandum dalam makanan kemasan seperti biskuit dan roti. Banyak produk gandum yang mengklaim bahwa produknya mengandung gandum utuh. Namun ternyata tidak semua makanan kemasan mengandung gandung utuh.

Whole Wheat vs Refined Wheat

Produk gandum memiliki banyak jenis, jenis yang dimaksud yakni bentuk gandum yang terdapat dalam makanan kemasan tersebut. Gandum utuh atau yang sering disebut Whole Wheat dalam label kemasan makanan merupakan gandum yang tidak digiling sehingga masih berbentuk bulir utuh atau dapat berbentuk tepung dengan tekstur lebih kasar karena mengandung dedak. Gandum utuh kaya akan mineral selenium, magnesium, dan potassium.

Gandum yang dimurnikan atau Refined Wheat dikenal sebagai gandum yang telah mengalami proses penggilingan dan diperkaya dengan zat besi, tiamin, niasin, ribloflavin, dan asam folat. Gandum yang dimurnikan biasanya berbentuk tepung putih.

Konsumsi sereal gandum sebagai makanan pokok menyumbang sekitar 50% asupan serat makanan. Konsumsi gandum di Indonesia sendiri baru menjadi tren dalam beberapa tahun terakhir sedangkan di negara barat konsumsi gandum sudah menjadi konsumsi sehari-hari. Masa kini, gandum dijadikan makanan utama oleh masyarakat terutama kaum wanita yang sedang menjalani program diet dan kaum lanjut usia untuk mengurangi risiko penyakit kronis terutama penyakit jantung, obesitas, diabetes tipe 2, dan kanker kolorektal.

Manfaat Gandum untuk Kesehatan

Beberapa penelitian menjelaskan manfaat gandum untuk mencegah penyakit. Konsumsi gandum pada wanita yang sedang menjalani diet dianggap dapat berpengaruh secara efektif dalam penurunan berat badan dibandingkan dengan mengonsumsi bahan makanan lainnya. Penderita obesitas juga dianjurkan untuk mengonsumsi gandum utuh untuk mengurangi berat badan dan menjaga kesehatan jantung. The American Journal of Clinical Nutrition menjelaskan bahwa gandum dapat menurunkan berat badan secara efektif terutama pada kaum wanita.

Manfaat gandum juga bisa dirasakan oleh penderita Diabetes tipe 2 karena gandum memiliki kadar gula yang rendah. Namun, Penderita Diabetes tipe 2 harus selektif dalam memilih produk gandum kemasan bagi penderita, produk gandum yang dipilih harus benar-benar mengandung gandum utuh.

Baca juga : Gymnema Sylvestre Untuk Mengobati Diabetes Secara Alami

Kanker kolorektal pun dapat dicegah dengan mengonsumsi gandum, beberapa studi menunjukkan bahwa orang yang mengonsumsi gandum lebih kecil risikonya untuk terkena jenis kanker tersebut.

ladang gandum

Sisi Gelap Sang Gandum

Namun, tahukah Anda tren mengonsumsi gandum saat ini lebih mengarah pada refined wheat? Kenyataannya beberapa studi menunjukkan pula bahwa gandum yang dikenal sebagai makanan sehat mempunyai sisi gelap yang dapat membahayakan tubuh. Konsumsi gandum yang sedang menjadi tren sebagai makanan pokok hari ini bahkan tidak sama seperti gandum pada zaman nenek kita terdahulu.

Gandum dan Diabetes

Menurut Diet American Standard, gandum menjadi salah satu makanan yang berpotensi merusak kesehatan tubuh. Gandum diketahui dapat meningkatkan gula darah. Hal tersebut ditemukan pada gandum yang telah disajikan dalam bentuk roti. Gandum bahkan mampu meningkatkan kadar gula darah yang lebih tinggi daripada Diet Coke, Snickers Bar, dan makanan cepat saji. Selain itu, sebuah penelitian mencatat bahwa makanan yang memiliki kadar gula darah yang tinggi mampu berisiko kanker usus besar dan payudara.

Gandum juga diketahui mengandung asam fitat, yaitu zat anti-nutrisi yang terbukti menghalangi penyerapan nutrisi penting. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa asam fitat dapat mengganggu penyerapan magnesium dan mineral penting lain pada tubuh. Selain itu, asam fitat juga dikenal mampu merusak tingkat penyerapan kandungan seng, tembaga, zat besi, dan bahkan kalsium pada tubuh sehingga meningkatkan risiko anemia, osteoporosis, dan kondisi serius lainnya.

Selanjutnya, gandum juga dinilai kaya akan gluten, di mana sebuah studi menunjukkan bahwa kandungan gluten dapat menyebabkan masalah pencernaan seperti masalah usus, gejala alergi, dan kembung pada penderita non-celiac, yaitu orang-orang yang bereaksi terhadap gluten tetapi bukan karena alergi gandum.

Penyebab Obesitas

Peningkatan gula darah yang disebabkan oleh mengkonsumsi refined wheat juga diketahui dapat memacu pertumbuhan lemak visceral yang berbahaya. Lemak visceral yang berada di sekitar perut akan memproduksi estrogen baik pada pria maupun wanita. Hal tersebut selain dapat menyebabkan kanker payudara pada wanita, juga dapat menyebabkan “man boobs” pada pria. Seorang kardiolog, Wiliam Davis, dalam tulisannya Wheat Belly juga menyebutkan bahwa mengkonsumi gandum berlebih menjadi penyebab utama obesitas dan diabetes di Inggris.

Boleh Saja Mengonsumsi Gandum, Asalkan…

Jadi apakah gandum benar-benar berbahaya bagi tubuh? Ketika seseorang tidak menjadikan gandum sebagai makanan pokok setiap harinya, serta mengisi hari tanpa mengkonsumsi gandum tersebut dengan buah, sayuran, daging, dan makanan berkualitas tinggi yang sesuai dengan kebutuhan biologis kita, tubuh akan mendapatkan manfaat gandum secara maksimal.

Jika gandum diibaratkan seperti narkoba, yang dapat membius kita pada efek buruknya pada tubuh, akan sulit bagi kita untuk memahami bahayanya pada tubuh sampai kita menguranginya atau menghilangkannya dari varian makan kita. Contohnya, pada penderita celiac yang dengan jelas menggambarkan bahwa konsumsi gandum bisa mendistorsi dan merusak kesehatan tubuh jika terus mengkonsumsinya.

Mengonsumsi gandum ternyata tidak selamanya baik bagi kesehatan tubuh. Dengan demikian sangat penting bagi kita untuk mengkonsumsi bahan pangan sesuai dengan porsi dan tidak lupa juga untuk memperkaya varian makanan yang ada.

Artikel oleh : Restu Adya & Wulandara Seplianda, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia

Back to Articles