gejala penyebab cara mengatasi depresi

Depresi – Kenali Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

Apakah Anda masih ingat, kasus bunuh diri yang dilakukan personil Boyband Korea beberapa waktu lalu? Dilansir dari cnnindonesia.com, selebriti tersebut mengakhiri hidupnya karena depresi. Mungkin Anda juga masih mengingat kasus bunuh diri yang juga dilakukan oleh vokalis ternama dari Linkin Park, Chester Bennington yang mengejutkan dunia baru-baru ini.

Mengingat bukan kali pertama artis ternama melakukan hal tersebut, menandakan bahwa serangan depresi tidak boleh diremehkan.

Dalam dunia kedokteran, depresi diartikan sebagai gangguan kesehatan mental yang mengacaukan pola pikir, suasana hati, serta menyebabkan kesedihan berlarut-larut. Istilahnya adalah gangguan depresi mayor (GDM). Normalnya, depresi berlangsung selama dua minggu.

Baca juga : Mengenal Baby Blues Syndrome Pasca Melahirkan

Jika lebih dari itu, penderita depresi harus bersikap waspada. Pasalnya, gejala tersebut bisa memicu tindakan bunuh diri. Menurut riset WHO (World Health Organization), sekitar 300 jutaan orang terjangkit gangguan mental ini.

Sementara itu, tidak kurang dari 750 ribu penderita depresi mengakhiri hidupnya secara tragis. Lalu, bagaimana mencegah hal tersebut terjadi? Cara paling sederhana adalah menghindari penyebab depresi, mengantisipasi gejala, serta mengetahui cara mengatasinya.

Penyebab Depresi

Meskipun pemicu depresi tidak bisa dipastikan, penyakit ini berkaitan dengan biokimia di dalam tubuh. Saat depresi, fungsi bagian otak yang disebut hippocampus, melemah. Organ tersebut tak mampu memproduksi serotonin.

Padahal, serotonin merupakan senyawa kimia yang dapat merelaksasi. Ketika itu, produksi hormon kortisol meningkat sehingga menginfeksi otak dengan toksin. Kalau tidak segera diatasi, hormon ini bisa mengakibatkan depresi semakin kronis.

Lantas, apa yang paling sering menyebabkan depresi? Dilansir dari web beyondblue.org, beberapa hal berikut ini kerap menjadi pemicunya.

  • Kejadian dalam Kehidupan

Anda punya masa lalu yang menyakitkan? Hati-hati; jangan terlarut dalam peristiwa itu karena bisa mengakibatkan depresi. Siapa pun dapat mengalami hal tersebut tanpa disadari.

Berdasarkan penelitian American Psychiatry Association, seseorang yang berumur 20-an lebih rentan terserang depresi. Salah satu penyebabnya adalah mengalami kesulitan jangka panjang atau merasa kehilangan.

Baca juga : Kebiasaan Orang Tua Yang Menurun Kepada Anak

  • Mengidap Penyakit Kronis

Depresi juga bisa menyerang pasien yang mengidap penyakit kronis. Penderita biasanya merasa putus asa karena tak kunjung sembuh. Menurut Dr. Andri, SpKJ, pakar psikosomatik di RS OMNI Alam Sutera, mengatakan; prevalensi depresi akibat riwayat medis khusus mencapai angka lebih dari 17 persen. Kondisi tersebut semakin memburuk jika pasien kehilangan motivasi atau putus harapan.

  • Pengaruh Obat-Obatan

Anda sering mengonsumsi obat hipertensi atau jenis paracetamol? Mulai sekarang, kurangi kebiasaan tersebut. Pasalnya, penggunaan obat jangka panjang bisa merusak saraf pusat. Kerusakan ini bisa memengaruhi kondisi kejiwaan seseorang, salah satunya terserang depresi.

Baca juga : Waspada Resistensi Antibiotik

  • Kurang Istirahat

Jika Anda merasa pusing atau terlalu lelah, lebih baik perbanyak istirahat. Setidaknya, dalam sehari bisa tidur selama 7-8 jam. Tidur nyenyak bisa menenangkan otak sehingga mampu memproduksi serotonin secara optimal.

5 Gejala Depresi yang Harus Diketahui

Gejala depresi meliputi aspek psikologi dan fisik. Seluruh organ tubuh ikut terlibat dalam memberikan tanda klinisnya. Menurut riset Mayo Clinic, depresi mungkin hanya dialami sekali seumur hidup. Meski begitu, bisa terjadi sepanjang hari.

Supaya lebih waspada, berikut gejala depresi yang harus Anda ketahui sejak dini. Jika salah satunya dialami, segera cari cara mengatasi penyakit tersebut.

  1. Suasana hati Anda selalu gelisah, malas melakukan kegiatan, putus harapan, dan mudah berubah. Mungkin juga merasa bersalah, sedih tak kunjung hilang, serta tidak puas dengan upaya yang dilakukan.
  2. Anda tidak bisa tidur lebih cepat, mengalami insomnia, tetapi kerap mengantuk.
  3. Secara fisik, berat badan menurun karena Anda kehilangan selera makan.
  4. Dari segi kognitif, bisa mengurangi konsentrasi, respons lamban, serta timbul rasa ingin bunuh diri.

Baca juga : Cara Membesarkan dan Mendidik Anak

Bagaimana Cara Mengatasi Depresi?

Penyakit apa pun pasti ada obatnya, termasuk depresi. Berikut ini ada tiga cara sederhana untuk menyembuhkan depresi secara bertahap.

  • Menyempatkan Waktu untuk Liburan

Liburan adalah salah satu cara untuk menyegarkan pikiran dan merelaksasi jiwa. Anda akan mendapatkan kebahagiaan saat melihat hal-hal menyejukkan selama berlibur. Profesor psikiatri dari Icahn School of Medicine, dr Elissa Epel, mengatakan bahwa, perubahan ekspresi gen ketika liburan mampu menurunkan zat kimia penyebab depresi.

  • Lakukan Meditasi

Meditasi merupakan metode menenangkan diri dengan cara bersemedi di tempat yang tenang. Teknik ini terbukti ampuh dalam merelaksasi saraf pusat sehingga Anda lebih santai. Gejala depresi, seperti kecemasan dan hilangnya konsentrasi, bisa pulih jika rutin melakukan meditasi.

Baca juga : Pentingnya Peran Seorang Ayah Dalam Membesarkan Anak

  • Mencurahkan Beban Pikiran dan Perasaan

Apakah Anda berkepribadian introvert? Hati-hati; tipe ini mudah terjangkit depresi. Hal itu karena pribadi tertutup tidak mudah mencurahkan pikiran maupun perasaannya. Jadi, untuk mencegah penyakit depresi, jangan pernah menutup diri dari lingkungan sosial. Upayakan menceritakan masalah Anda kepada orang terdekat atau mencurahkan di buku harian.

Demikian penjelasan tentang depresi beserta penyebab, gejala, dan cara mengatasinya. Semoga bermanfaat!

Back to Articles