difteri

Fakta Seputar Penyakit Difteri Yang Wajib Anda Baca

Apakah Anda mengalami sakit tenggorokan, demam, serta sulit bernapas? Meski gejala tersebut bisa mengindikasikan banyak penyakit, tidak ada salahnya memeriksakan diri. Mungkin, indikator klinis itu menjadi pertanda serangan difteri.

Menurut riset di situs mayoclinic.org, difteri disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheria. Bakteri ini bersarang di permukaan selaput lendir dekat tenggorokan. Secara bertahap, organisme tersebut memproduksi racun untuk mematikan sel-sel sehat.

Baca juga : Waspada Resistensi Antibiotik

7 Fakta Mengerikan Penyakit Difteri

Beberapa kasus menunjukkan, penderita kerap kali tidak menyadari serangannya. Padahal, penyakit difteri memiliki fakta mengerikan yang mengancam keselamatan manusia. Apa saja faktanya?

  1. Difteri Muncul Sejak Abad ke-5 Sebelum Masehi

Percaya atau tidak, ilmuwan ternama bernama Hippocrates pernah terserang gejala penyakit difteri. Saat itu, dunia tengah memasuki abad ke-5 SM. Artinya, difteri telah menjangkiti manusia sejak ratusan tahun silam.

Penelitian terhadap penyebab bakteri baru dilakukan pada abad ke-6 Masehi. Pelakunya adalah seorang dokter dari Yunani, Aetius.  Kemudian, di tahun 1884, Edwin Klebs dan Friedrich Löffler, ahli bakteriologi Jerman, meneliti Klebs-Löffler bacillus. Ia mencurigai bakteri tersebut yang menyebabkan difteri.

Tahun 1920-1930, dunia dilanda wabah penyakit difteri. Saat itu, para medis dari Amerika menemukan antitoksinnya. Meski begitu, difteri menyebab secara cepat melalui kontak langsung dengan penderita.

  1. Penyakit Difteri Menyebabkan Kematian

Mungkin, Anda belum lupa; dahsyatnya difteri yang mewabah di Jawa Timur. Penyakit ini menjangkiti 14 kabupaten/kota di provinsi tersebut. Kurang lebih ada 400-an kasus melanda kawasan Jawa Timur dengan jumlah pasien meninggal sebanyak 16 orang.

Kematian akibat difteri juga pernah terjadi di tahun 1990-2001. Saat itu, wabah menyerang negara di kawasan Eropa. Dari 160.000 kasus difteri, sekitar 4.000 orang meninggal dunia.

Lantas, bagaimana difteri bisa menyebabkan kematian? Begini, racun yang dikeluarkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheria dapat menyumbat saluran pernapasan. Jika diabaikan, lambat laun membuat penderita sulit bernapas. Pun menyebar lewat aliran darah sehingga menimbulkan memicu gagal jantung.

  1. Masa Penularan Berlangsung Cepat

Difteri ditularkan secara cepat melalui udara. Berdasarkan penelitian National Foundation for Infectious Diseases, seseorang terinfeksi jika menghirup cairan atau gas dengan kontaminasi bakteri Corynebacterium diphtheria.

Proses penularan difteri berlangsung selama 2-4 minggu dengan gejala beragam. Awalnya, Anda hanya mengalami batuk disertai flu. Tanda klinis selanjutnya, yaitu sulit menelan makanan, nafsu makan menurun, serta keluar selaput lendir dari hidung

  1. Korban Difteri Terbanyak Berasal dari Kalangan Anak-Anak

Difteri kerap kali menyerang anak-anak berumur 5-9 tahun. Penyebab utamanya adalah vaksinasi yang tidak lengkap saat masih balita. Semestinya, anak berusia 2 bulan mendapatkan imunisasi DPT (difteri, pertusis, dan tetanus).

Imunisasi tersebut dilakukan sebanyak lima kali sampai usia 5 tahun. Memasuki 7 tahun, vaksinasi diberikan lagi untuk memperkuat imun. Selanjutnya, diulangi setiap 10 tahun sekali dengan memberikan vaksin Td (tetanus difteri).

  1. Difteri Menjangkiti Orang yang Tidak Menggunakan Vaksin

Dedet Hidayati, dokter spesialis anak, menyatakan bahwa difteri juga bisa menyerang orang dewasa. Bahkan, beberapa pasien difteri sudah berusia di atas 60 tahun. Ada dua penyebab jangkitan penyakit tersebut; tertular atau tidak menggunakan vaksin.

Lalu, bisakah orang dewasa mendapatkan vaksin? Pastinya vaksin harus diberikan untuk mencegah serangan difteri. Jika Anda belum pernah diimunisasi, vaksin difteri diberikan sebanyak dua dosis. Jarak pemberian antara yang pertama dan kedua adalah 4 minggu. Sementara vaksinasi selanjutnya disuntikkan 6-12 bulan kemudian.

  1. Indonesia Merupakan Negara Darurat Difteri

Fakta mencengangkan ditemukan WHO melalui risetnya di tahun 2000-2016. Lembaga ini mengungkapkan; Indonesia merupakan negara endemis difteri. Lebih dari 3.000-an kasus difteri terjadi sepanjang tahun 2011-2016.

Kemudian, di tahun 2017 tercatat tidak kurang dari 590 kasus difteri. Jumlah tersebut diduga meningkat 42 persen. Akibatnya, Indonesia menjadi negara dengan wabah difteri terbesar kedua di dunia setelah India.

  1. Difteri Memicu Gangguan Organ Lainnya di dalam Tubuh

Ketika Anda terjangkit difteri, bagian belakang tenggorokan diselimuti selaput yang disebut pseudomembran. Akibatnya, terasa sakit saat menelan makanan. Lambat laun, selaput ini memicu pembengkakan kelenjar getah bening.

Pembengkakan tersebut membuat bagian leher terlihat membesar. Tidak hanya itu, keberadaan selaput bisa menimbulkan sesak napas. Jika dibiarkan, akan berakibat kematian.

Racun yang dikeluarkan bakteri penyebab difteri juga bisa membuat detak jantung tidak normal. Kalau diabaikan, dapat mengakibatkan pembengkakan katup dan otot jantung.

Demikian ulasan mengenai beberapa fakta mengerikan penyakit difteri. Jagalah kebersihan, lakukan imunisasi, jalani pola hidup sehat, serta konsumsi makanan bergizi untuk mencegah serangannya.

Back to Articles